Throne of Glass by Sarah J. Maas

Throne of Glass-cover
Klik untuk membeli di Amazon

Let’s be clear about something first: aku bukanlah penggemar novel young-adult, YA, atau dewasa-muda. Sebagian besar novel-novel dalam genre tersebut, menurutku, terlalu predictable. Karakter, cerita, plotnya, biasanya mudah ditebak. Narasinya pun seringkali berlebih-lebihan dalam membawa unsur romansa.

Mari kita cek sedikit trope karakter-karakter novel YA: seorang protagonis perempuan yang kuat, unik, dan memiliki konflik pribadi sebagai karakter utama; seorang protagonis (atau anti-hero) pria yang kuat, tangguh, cool, berkepala dingin dan sinis (bonus point: he’s always smirking) sebagai calon love interest; seorang protagonis pria yang baik, ramah, cerdas, yang menjadi sahabat baik si karakter utama (plus point: he’s in love with the MC, but don’t worry, he’ll get over it soon); serta sekumpulan orang-orang lain yang menjadi tim pembantu bagi tiga karakter tersebut, melengkapi, menambahkan konflik-konflik yang bisa jadi tidak penting sebelum akhirnya mereka semua bergabung untuk menghadapi The Big Bad One.

Ganti nama novelnya, ganti ras atau spesies yang menjadi sumber konflik (atau calon love interest), dan kau akan mendapatkan sebuah cerita YA yang hampir bisa dijamin akan laris ribuan eksemplar. Enak, ‘kan?

Oleh karena itu, pada saat aku pertama mendengar mengenai novel yang sedang naik daun satu ini, reaksiku adalah skeptis. Satu-satunya hal yang membuatku mau mengambil, membeli, dan membacanya hanyalah sampulnya yang keren. Total badass. Aku sudah menyiapkan diriku untuk kekecewaan, karena toh beberapa sampul keren belum menjamin isinya benar-benar berkualitas. Kupikir ini akan sama saja dengan kebanyakan novel YA lainnya. Trope yang sama, pembukaan yang sama, cerita yang sama…

Boy. I was wrong.

Continue reading “Throne of Glass by Sarah J. Maas”

Sandman: Ramadan by Neil Gaiman

Sandman - RamadanHampir satu bulan penuh sejak saya menulis ulasan buku di sini. Selama itu pula, saya telah mendaftar wisuda, melamar kerja, diundang ke wawancara, ditolak, pulang, introspeksi diri, minum-minum (kopi susu), lalu melamar lagi, diundang wawancara, tes praktek, dan diterima. Tak lupa, negara-negara jatuh, perang dimulai dan akan berakhir, jiwa datang dan pergi. Begitu banyak yang terjadi hanya dalam rentang waktu tiga puluh hari; waktu terus mengalir sementara kita melupakan banyak hal.

Ruang dan waktu. Space and time. Belakangan ini, sejak saya menyadari betapa besarnya kekuatan yang disimpan waktu terhadap kita semua, saya mulai membongkar-bongkar kembali arsip-arsip lama saya. Kardus demi kardus yang ada di rumah saya buka, dan, voila! Setumpuk buku novel lama, mass market paperback dari luar negeri, komik-komik Doraemon, Kung Fu Komang, Captain Tsubasa, dan, yang paling menarik perhatian saya: Sandman.

Bertahun-tahun silam, saya menemukan satu bagian di toko buku emperan di dekat Universitas Indonesia (tempatnya sekarang sudah dipindah, entah ke mana). Di sana, dijual banyak  buku-buku impor dan menjadi salah satu sasaran utama saya kalau mau mencari buku berbahasa Inggris yang tidak diterbitkan di Indonesia. Sebagian besar murah, karena bekas, dan dalam kondisi tidak bagus, tapi kontennya masih sama. Serial Sandman adalah serial komik yang saya beli di sana dengan harga yang bagus. Sebelum saya tahu mengenai novel-novelnya, inilah karya Neil Gaiman pertama yang saya baca.

Dan, tentu saja, Sandman: Ramadan stood out sebagai salah satu karya Sandman yang paling saya suka dari beliau.

Continue reading “Sandman: Ramadan by Neil Gaiman”