Baca Hujan, Triwulan Satu

Triwulan PertamaTerhitung dari postingan pertama blog ini, sudah tiga bulan Baca Hujan berjalan. Tiga bulan, empat minggu, satu buku tiap minggunya: satu triwulan ditandai dengan sudah adanya dua belas buku saya ulas, pajang, dan promosikan di sini. Dua belas buku bacaan favorit saya, dari berbagai genre.

Oleh karena itu, untuk memperingati tiga bulan berjalannya Baca Hujan, saya akan melakukan sedikit ulasan singkat tentang keduabelas buku yang sudah saya ulas di sini. Diurut dari yang paling lama diposting hingga yang paling baru, dan lengkap dengan link ke masing-masing postingan ulasan.


1. Ender’s GameOrson Scott Card

Baru saja dijadikan film layar lebar, Ender’s Game membawa kita mengikuti kisah Ender Wiggin, seorang anak laki-laki jenius yang direkrut oleh pemerintah di masa depan dan dilatih untuk menjadi pemimpin pasukan perlawanan terhadap invasi Alien bersama dengan anak-anak jenius lainnya dari seluruh dunia. Sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

2. Mimpi-Mimpi EinsteinAlan Lightman

Separuh memoir separuh kumpulan jurnal mimpi, Mimpi-Mimpi Einstein berisikan tulisan-tulisan karya Alan Lightman mengenai gagasan-gagasan Einstein akan ruang dan waktu. Setiap bab adalah sebuah dunia dengan keunikan-keunikannya tersendiri, namun begitu familiar dan dekat dengan kita hingga terasa sangat nyata dan retrospektif.

3. The Age of MiraclesKaren Thompson Walker

Novel remaja yang sangat dewasa, fantastik sekaligus realistis, The Age of Miracles mengisahkan dunia yang kehilangan rotasinya. Malam dan siang terentang menjadi lebih panjang. Di tengah-tengah hancurnya peradaban, seorang remaja perempuan berefleksi pada segala perubahan yang ada – baik pada dunia, masyarakat, sekolah, teman-temannya, keluarganya, hingga dirinya sendiri.

4. Samudra di Ujung Jalan SetapakNeil Gaiman

Sebuah novel untuk anak-anak dalam diri setiap orang dewasa, Samudra di Ujung Jalan Setapak mengantarkan pembaca ke dalam dunia kanak-kanak, penuh dengan fantasi, alegori, metafor, dan imajinasi. Atau, benarkah mereka imajinasi? Jalan setapak yang dulu kita lalui, yang kita percaya mengantarkan kita ke istana naga? Ingatan tentang seorang anak perempuan yang mengaku kolam di rumahnya adalah Samudra?

5. EdensorAndrea Hirata

Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang legendaris, Edensor mengisahkan perjalanan Ikal dan Arai saat berkuliah dan backpacking di Eropa. Nuansa Paris yang nikmat, Eropa yang beragam, pergaulan dan budaya yang berbeda, begitu menyentuh dalam kisah ini.

6. Vader’s Little PrincessJeffrey Brown

Sebuah fan-work dari Mr. Brown, Vader’s Little Princess membayangkan sebuah dunia di masa lalu di galaksi yang sangat, amat jauh, di mana Mr. Vader membesarkan Leia, putrinya. Menguasai seluruh galaksi, pesawat sebesar bulan, dan menghancurkan planet-planet pemberontak? Nanti dulu, karena Darth Vader harus mengantarkan Leia kecil ke sekolah.

7. The 13 ClocksJames Thurber

Novel ringan, ilustratif, dengan cerita sederhana dan didesain untuk dibaca segala usia – terutama anak-anak? Menggabungkan unsur fantasi, middle-age, sekaligus semi-fiksi ilmiah? Dengan unsur konspirasi a la kerajaan dan ksatria yang tidak klise? Silakan baca ini. Tersedia gratis untuk diunduh lho.

8. CarrieStephen King

Master genre horror Stephen King pernah berkata bahwa Carrie bukanlah karya yang ia banggakan, namun kisah seorang gadis dengan kemampuan telepati a la Jean Grey serta semi-biblical force ini telah diadaptasi ke dalam tiga film layar kaca dan memiliki fans mengglobal. Nikmati horrornya, dan betapa dekatnya kisah ini dengan aroma remaja masa kini.

9. Magical Game Time Vol. 1Zac Gorman

Senang main video game? Pernah bertualang di dunianya Zelda, Mario, Sonic, dan banyak permainan konsol lainnya? Menikmati Final Fantasy? Magical Game Time Vol. 1 adalah kumpulan karya-karya Zac Gorman; komik-komik, ilustrasi, dengan tema game. Kocak, sedih, dan keren sekaligus dalam satu buku!

10. Catching FireSuzanne Collins

Protagonis yang mandiri, kuat, jago memanah, namun tetap erat dengan jati dirinya sebagai perempuan? Sebuah TV Show a la Battle Royale yang diselenggarakan pemerintah korup? Distopia, dan konspirasi? Plus kisah cinta segitiga yang benar-benar mengena, membuat buku ini layak menjadi sekuel yang sangat kuat dari The Hunger Games.

11. SteelheartBrandon Sanderson

Sepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya misterius muncul di langit. Orang-orang tertentu mulai mendapatkan kekuatan super di saat bersamaan, dan masyarakat – manusia biasa – menamai mereka Epics. Twist: tak ada superhero. Semuanya supervillain.

12. The Amulet of SamarkandJonathan Stroud

Sesuatu terjadi di masa lalu, sesuatu yang membuat para penyihir, alih-alih bersembunyi dari manusia biasa, justru mengambil alih pemerintahan dan membangun peradaban. Di dunia Nathaniel, para penyihir memerintah kerajaan Inggris. Twist: tidak ada tongkat sihir. Setiap penyihir membutuhkan jin untuk bisa menyihir.


Lalu, karena pada peringatan Triwulan ini saya tidak akan memposting ulasan buku, sebagai gantinya saya akan ulas sebuah cerita pendek yang sangat menarik yang saya temukan. Jadi, ini dia:

A Study in Emerald by Neil Gaiman

-o0o-

A Study in Emerald

Cerita pendek satu ini bisa dibilang semacam crossover antara Sherlock Holmes dengan Lovecraft. Dari judulnya saja bisa dibilang sudah hampir ketahuan ‘kan? A Study in Emerald dengan A Study in Scarletsalah satu kisah penyidikan legendaris Sherlock Holmes karyanya Sir Arthur Conan Doyle. Tapi, mungkin ada yang bertanya-tanya: Lovecraft itu apa ya? Atau siapa? Nah, silakan bisa dibaca dulu mengenai beliau di sini.

Mengenai ceritanya sendiri, bisa dibilang, nggak bakal seru lagi kalau saya beritahu meski hanya sedikit saja ceritanya di sini. Serius. Membaca A Study in Emerald, saya dapat feel-nya karena kagetnya. ‘Wah’-nya. Awalnya saya kira begini, lanjutnya ternyata begitu. Perasaan saya dibolak-balik dicampur-aduk sampai kaya blender. Pokoknya ‘Wah’ karena saya tidak tahu, tidak menduga. Jadinya seram juga.

So… simply, I’d say, save the surprise for the time when you’re reading it.

Cerita pendek ini bisa dibaca gratis di sini. Mr. Gaiman juga memiliki banyak koleksi cerita pendek lainnya yang bisa dibaca di situs resmi beliau. Tepatnya di sini. Selamat membaca!

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus Trilogy #1)

Amulet of SamarkandAlkisah, sesuatu terjadi di masa lampau. Sesuatu yang membuat penyihir berjalan dengan leluasa di dunia dan membaur dengan masyarakat. Sihir dan jampi-jampi diterima di kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang biasa. Di dunia seperti ini, Inggris dikuasai oleh penyihir-penyihir sakti, dan Nathaniel, seorang anak laki-laki, dijual oleh orangtuanya kepada pemerintah untuk menjadi murid penyihir di bawah bimbingan Arthur Underwood, seorang penyihir kelas menengah di pemerintahan Inggris.

Suatu hari, karena sebuah insiden, Nathaniel dipermalukan oleh seorang penyihir kelas atas bernama Simon Lovelace. Bertekad untuk membalas dendam, ia mempelajari sihir sedalam-dalamnya, berjuang menguasai sihir-sihir bahkan di usianya yang masih belia. Akhirnya, ia berhasil memanggil seorang Djinn bernama Bartimaeus, yang konon berusia lebih dari 5000 tahun, untuk mencuri sebuah amulet dari Simon Lovelace. Tindakan sederhana tersebut membuat Nathaniel terjebak dalam jaring-jaring kriminal, politik, dan persaingan sihir di jajaran kerajaan Inggris.

Di saat bersamaan, sebuah gerakan pemberontak jalanan telah bangkit.

***

Pertama kali aku menemukan novel ini, tergeletak di toko buku lokal, adalah saat aku masih SMA. Saat itu, aku masih terlalu gandrung dengan Harry Potter untuk melirik novel-novel fantasi lainnya, apalagi yang kedengarannya terlalu sejenis (bukan salahku. Waktu itu ada film di TV Indonesia berjudul Heri Putret. Atau Heri Potret. Whatever. Bagaimana pun, setiap kali mengingatnya, aku selalu merasa malu sendiri). Jadi, aku rada gerah kalau nemu novel, terus baca summary-nya di bagian belakang, dan mendapati isinya terlalu mirip serial favoritku itu.

Itu dulu.

Tahun kemarin, setelah mendapatkan tablet dan bisa membeli eBook dengan sesuka hati, aku menemukan kembali novel ini dan membelinya. Hasilnya, ternyata, isi ceritanya jauh dari dugaanku.

One magician demanded I show him an image of the love of his life. I rustled up a mirror.

Ada beberapa kesamaan, pastinya, antara Bartimaeus Trilogy – dalam hal ini adalah The Amulet of Samarkand – dengan Harry Potter. Kedua-duanya sama-sama menceritakan mengenai penyihir, kedua-duanya sama-sama ber-setting di Inggris. Tapi, melalui buku ini, untuk pertama kalinya aku mengenal yang namanya hard magic system.

Apa itu hard magic system? Artinya adalah sistem sihir yang kaku, strict, dengan aturan-aturan dan logika yang menyerupai ilmiah. Ini berlawanan dengan soft magic system seperti pada Harry Potter, yang satu-satunya aturan adalah mantra (itupun di buku-buku selanjutnya ada yang namanya non-verbal spells, jadi nggak perlu mengucapkan mantra) dan ayunan tangan (tidak juga, di buku-buku selanjutnya orang meluncurkan mantra-mantra bisa seenak hati dari posisi tangan mana pun). Jadi, sistem sihirnya nggak kaku. Tidak seperti The Amulet of Samarkand.

Di The Amulet of Samarkand, supaya seorang penyihir bisa menyihir, ia harus memanggil jin. Yups, benar-benar memanggil jin dengan lingkaran pemanggil, pentagram/heksagram, mantra, ucapan tertentu, dst. Tanpa melakukannya, penyihir takkan bisa menyihir. Sesederhana itu, namun krusial. Di satu bab, kita bisa melihat bagaimana penyihir yang tidak sempat memanggil jinnya terbunuh, dan penyihir yang jinnya kalah kuat terbunuh juga. Semakin ahli penyihir dalam menggambar lingkaran dan jampi-jampi, ia bisa memanggil dan mengendalikan jin yang semakin kuat. Dan semakin kuat jin yang dipanggil, semakin sakti-lah penyihir tersebut.

Dan, di cerita ini, protagonis kita, seorang penyihir muda yang masih belajar di bawah bimbingan Master-nya, berhasil memanggil Bartimaeus: seorang jin berusia 5000 tahun lebih.

Jabor finally appeared at the top of the stairs, sparks of flame radiating from his body and igniting the fabric of the house around him. He caught sight of the boy, reached out his hand and stepped forward.

And banged his head nicely on the low-slung attic door.

Salah satu hal yang membuat The Amulet of Samarkand bersinar adalah karakternya. Setiap tokoh di The Amulet of Samarkand, bahkan para jinnya, terasa hidup. Mereka memiliki kelemahan, mereka memiliki kekurangan. Dan mereka semua cool. 

Selain itu, ceritanya cukup ramai: ada konspirasi, ada kisah balas dendam, kisah cinta, kisah belajar sihir, kisah penebusan dosa dan kesalahan, dan masih banyak lagi. Dan, yang paling utama, sistem sihirnya ngepas dengan ceritanya. Benar-benar sesuai.

Source: Myluckyseven.net
Source: Myluckyseven.net

Terus, satu hal yang kusadari, adalah bahwa sistem sihir seperti ini sebenarnya tidak asing: kita menjumpainya di perdukunan di Indonesia, ‘kan? Memanggil jin, memanfaatkan mereka untuk melakukan hal-hal kotor kita, dan banyak lagi. Mungkin Mr. Jonathan Stroud pernah datang ke sini, melihat bagaimana dukun bekerja, dan memutuskan untuk membuat novel berdasarkan hal tersebut?

Yang jelas, buku ini superb.